Connect with us

Belajar Bahasa Isyarat Signalong di Sekolah Inklusif Galuh Handayani

Photo: Galuh Handayani

Berita

Belajar Bahasa Isyarat Signalong di Sekolah Inklusif Galuh Handayani

Belajar Bahasa Isyarat Signalong

Belajar Bahasa Isyarat Signalong: Siswa SMA Galuh Handayani bernyanyi sambil mempraktikkan bahasa isyarat Signalong saat mengikuti apel pagi kemarin (14/11).

Empat tahun sudah Sekolah Inklusif Galuh Handayani menerapkan pembelajaran dengan menggunakan Signalong. Belajar bahasa isyarat signalong yang berkembang di Inggris itu mudah dipelajari semua orang. Termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

TEPAT pukul 08.00, bel sekolah berbunyi. Murid-murid turun ke halaman untuk mengikuti apel pagi. Para guru membantu mereka merapikan barisan. Tak lama kemudian, upacara dimulai.

Upacara berjalan layaknya sekolah lain. Para murid berbaris dengan rapi, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan mendengarkan sambutan dari guru yang bertugas.

Bedanya, semua materi tidak hanya disampaikan melalui ucapan. Tetapi, juga menggunakan bahasa isyarat dengan gerakan tangan. Bahasa isyarat itulah yang disebut Signalong.

Sejak empat tahun terakhir, Sekolah Galuh Handayani akrab dengan bahasa tersebut. Awalnya, Belajar Bahasa Isyarat Signalong dikenalkan oleh Prof Kieron Sheehy dari Open University United Kingdom pada 2012.

Bersama Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dia menjadikan Galuh Handayani sebagai sekolah sasaran pelatihan Signalong.
Ketua Yayasan Galuh Handayani Sri Sedyaningrum mengatakan, dirinya langsung tertarik saat pertama dikenalkan pada Signalong. Guru-guru pun dilatih Belajar Bahasa Isyarat Signalong tersebut.
Setelah cukup mahir, baru kemudian diterapkan kepada siswa. Sejak 2014, Signalong masuk dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) di sekolah itu.
Cara mempraktikkan Signalong tidak jauh berbeda dengan isyarat yang biasa dilakukan masyarakat selama ini. Misalnya, isyarat lari dilakukan dengan gerakan tangan diayunkan seperti sedang berlari.
Perasaan sedih ditunjukkan dengan ekspresi muka sedih dan dua jari telunjuk menunjuk ke arah mata. ”Sama seperti yang kita lakukan sehari-hari. Jadi, semua bisa mempraktikkan,” tuturnya.
Tidak hanya itu. Signalong juga termasuk bahasa yang fleksibel. Penggunaannya bisa disesuaikan dengan kebiasaan di setiap negara. Misalnya, ibadah.
Di Inggris, isyarat ibadah dilakukan dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada. Di Indonesia yang rata-rata penduduknya muslim, isyarat salat dilakukan dengan gerakan takbiratul ihram.
Yakni, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu bersedekap di bawah dada. Di Galuh Handayani, praktik Signalong diajarkan melalui lagu pada saat apel pagi.

Senin (14/11) para murid di sekolah itu menyanyikan lagu Old McDonald Had A Farm dan Tek Kotek-Kotek. Mereka juga mengikuti instruksi dari guru dan siswa ambassador yang memberikan arahan di barisan depan.

Agar gerakannya lebih sempurna, para siswa juga mempelajari gerakan itu di kelas. Meski terlihat simpel, mengajari anak-anak berkebutuhan khusus tetap membutuhkan kesabaran.

Untuk lagu yang paling mudah dengan lirik diulang-ulang, mempelajari hingga hafal keseluruhannya memerlukan waktu hingga dua pekan.

”Kalau lagunya panjang dan liriknya banyak seperti Desaku, bisa sampai satu bulan,” ungkapnya. Praktik Signalong, lanjut dia, juga diterapkan pada beberapa mata pelajaran.

Salah satunya ilmu pengetahuan alam (IPA) pada kelas VII. Pemakaian bahasa isyarat tersebut memudahkan anak-anak memahami materi yang diajarkan.

Sekolah inklusif Galuh Handayani memiliki sekitar 200 murid. Terdiri atas anak-anak TK hingga college. Awalnya, sekolah yang berdiri pada 1995 itu diperuntukkan anak-anak slow learner.

Namun, kini semakin berkembang dengan menerima siswa reguler, autis, tunagrahita, down syndrome, tunarungu, cerebral palsy, dan low vision.

”Signalong ini bisa dipelajari semua anak. Jadi mempersempit jarak di antara mereka,” kata perempuan kelahiran Madiun, 14 April 1961, itu.

Siswa reguler adalah anak-anak yang tidak memiliki keterbatasan khusus. Pembelajaran dan soal-soal dibedakan meski satu kelas dengan ABK.

Mereka juga dijadikan ambassador yang mengajari teman-temannya yang ABK untuk belajar Signalong. Sekolah tersebut sering mengisi seminar-seminar tentang pembelajaran bagi siswa inklusi di berbagai universitas.

Salah satunya seminar internasional di Bandung pada Oktober lalu. ”Kami juga terus dipantau oleh Prof Kieron dan membuat laporan hasil pembelajarannya,” terang Ningrum. (ant/c6/nda/sep/JPG)

  • pendidikan signalong
  • pendidikan signalong
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita

To Top