Connect with us

Terapi okupasi diberikan kepada anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan

Foto: Galuh Handayani

Terapi

Terapi okupasi diberikan kepada anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan

Terapi okupasi ini sangat membantu ABK. Terapi Okupasi dapat melatih anak untuk bisa mengolah, melengkapi dan memperlakukan lingkungannya sedemikian rupa hingga tercapai peningkatan, perbaikan dan pemeliharaan kemampuan anak. “Penekanannya pada sensomotorik dan proses neurologi. Terapi ini tidak hanya membantu tumbuh kembangnya saja, tetapi juga membuat anak lebih mandiri dalam kegiatan sehari-hari,” jelas terapis yang memulai profesinya dengan menjadi terapis okupasi.

Sebagai contoh, pada anak yang hiperaktif maka tujuan terapi ini adalah untuk meminimalisir hiperaktivitasnya, sedangkan pada anak yang hypoaktif, terapi ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitasnya. Pada terapi okupasi, anak juga dilatih berkonsentrasi agar memiliki daya tahan aktivitas yang normal.

“Banyak teknik yang digunakan pada terapi okupasi mulai dari berkomunikasi dengan tatap mata, bermain puzzle, meronce, menyamakan bentuk. Bagi yang mengalami gangguan pada motorik juga akan diberi beberapa kegiatan untuk memberi rangsangan. Misalnya untuk anak palsi serebral yang tidak kuat duduk dan menopang tulang belakang akan diberi latihan untuk berjalan, yang tidak kuat mengontrol leher akan dilatih agar stabil. Semua disesuaikan dengan kebutuhan anak,” sahutnya lagi.

Terapi okupasi diberikan kepada anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan, kesulitan akademis, keterampilan dan kemandirian, termasuk di dalamnya autisma, hiperaktif ataupun deficit disorder, sindroma down, ADHD, palsi serebral, development disorder, keterlambatan wicara dan anak yang mengalami gangguan proses pendengaran serta perilaku. Treatment yang diberikan pun juga dengan teknik dan metode yang berbeda oleh terapis yang menangani anak secara personal.

Dalam terapi ini biasanya teknik akan mendasarkan pada tiga jenis sistem, yaitu sistem vestibular, taktil dan vasil. “Okupasi ini memang lebih kompleks dan berkaitan pula dengan terapi Sensori Integrasi. Jadi tak bisa dipisahkan karena saling melengkapi. Sistem vestibular akan menangani masalah sensasi gerakan dan gravitasi sedangkan taktil dapat mengatur indera peraba dan vasil,” jelasnya.

Latihan dengan menggunakan bola fisio (fisio ball) dapat merangsang anak untuk bisa bermain dengan permukaan yang bertesktur. Seperti halnya pada terapi sebelumnya, evaluasi yang baik dilakukan setiap 3 bulan dan perkembangannya dilaporkan kepada orangtua. Umumnya biaya terapi okupasi berkisar Rp1,6jt hingga Rp2 juta untuk 8 sesi pertemuan.

Sumber : Tabloidnova.com

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Terapi

Berita terkini

Trend

Peningkatan kompetensi

Peningkatan Kompetensi Guru & Tenaga didik

By Mei 13, 2017

Peningkatan kompetensi

Pengembangan Signalong Indonesia

By Mei 13, 2017

Peningkatan kompetensi

In House Training (IHT) setiap akhir pekan

By Mei 13, 2017
To Top